Jumat, 27 Maret 2009

Paseng to Riolota

Masyarakat Bugis - Makassar banyak memiliki orang-orang arif pada masa lampau...berikut adalah salah satu pesan To Riolo yang masih relevan untuk masa sekarang ini :

“ Naiya sapakna Sangiasserie, aruwai. Makkunrai sionrong worowane. Maduanna, sionronge anak daranna. Matellunna. Tonasoppak-E tekkenna. Maeppakna, worwane sipara-paranna padanna worowane. Malimanna, tomallaso pattik-E. Maennenna, sisala-sale padanna tau ri lalempanua. Mapitunna, temmapemmaliwi ri bicarae. Maruanna, majak ri lalempolai arung Mangkauk-E.” ( PabbicaraE ri Luwu )

Rabu, 18 Maret 2009

Siri na Pacce

Lelah kususuri sepanjang pesisir Makassar
Telah kujelajahi seluruh belantara
tanah Bugis
Sudah pula kutelanjangi seluruh relung
Tana Toraja
Dan tak kulewatkan pula setiap jengkal
pedalaman Mandar dan Luwu

Tahukah kau, bahwa semua itu kulakukan
hanya untuk mencarimu

Tapi,
Tak kutemukan sedikitpun jejakmu di sana.

Oh... Siri' na Pacce
Di tubuh yang mana kini
Engkau terpatri...

Selasa, 10 Maret 2009

Paseng to Ugi'E

Sadda mappabati ada
Ada mappabati gauk
Gauk mappabati Tau

Temmetto nawa – nawa majak
Tellessuk ada – ada belle
Teppugauk gauk maceko
Temmakkatuna ri padana tau
Tettakkalupa ri apolengenna.

Kamis, 12 Februari 2009

Songkok Recca'




Songkok Recca’ terbuat dari serat pelepah daun lontar dengan cara dipukul-pukul (dalam bahasa Bugis : direcca-recca) pelepah daun lontar tersebut hingga yang tersisa hanya seratnya. Serat ini biasanya berwarna putih, akan tetapi setelah dua atau tiga jam kemudian warnanya berubah menjadi kecoklat-coklatan. Untuk mengubah menjadi hitam maka serat tersebut direndam dalam lumpur selama beberapa hari.

Jadi serat yang berwarna hitam itu bukanlah karena sengaja diberi pewarna sehingga menjadi hitam. Serat tersebut ada yang halus ada yang kasar, sehingga untuk membuat songkok recca’ yang halus maka serat haluslah yang diambil dan sebaliknya serat yang kasar menghasilkan hasil yang agak kasar pula tergantung pesanan. Untuk menganyam serat menjadi songkok menggunakan acuan yang disebut Assareng yang terbuat dari kayu nangka kemudian dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai songkok. Acuan atau assareng itulah yang digunakan untuk merangkai serat hingga menjadi songkok. Ukuran Assareng tergantung dari besar kecilnya songkok yang akan dibuat.

Sejak kapan munculnya Songkok Recca’ (Songkok To Bone)?

Songkok recca’ (songkok to Bone) menurut sejarah, muncul dimasa terjadinya perang antara Bone dengan Tator tahun 1683. Pasukan Bone pada waktu itu menggunakan songkok recca’ sebagai tanda untuk membedakan dengan pasukan Tator.

Pada zaman pemerintahan Andi Mappanyukki (raja Bone ke-31), songkok recca dibuat dengan pinggiran emas (pamiring pulaweng) yang menunjukkan strata sipemakainya. Akan tetapi lambat laun hingga sekarang ini siapapun berhak memakainya. Bahkan beberapa kabupaten di Sulawesi memproduksinya sehingga dapat dikatakan, bahwa songkok recca yang biasa juga disebut sebagai Songkok To Bone yang merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa orang Bone tersebut mendapat apresiasi baik dari masyarakat Sulawesi maupun Indonesia pada umumnya.

Di Kabupaten Bone Songkok Recca/Songkok To Bone diproduksi di Desa Paccing Kecamatan Awangpone. Di daerah tersebut terdapat terdapat komunitas masyarakat secara turun temurun menafkahi keluarganya dari hasil prosese mengayam pelepah daun lontar ini yang disibut Songkok Recca atau Songkok To Bone.

Kamis, 05 Februari 2009

Stadion Andi Mattalatta





Stadion ini adalah salah satu situs sejarah tentang perkembangan olahraga Sulawesi Selatan. Walaupun udah tua, kayak tidak terawat dan jaduul banget,Di sini pernah loh lahir segelintir pesepakbola hebat negeri ini... Stadion yang mampu menampung sekitar 15 ribu orang (berdesakan coi) ini merupakan markas tim sepak bola PSM Makassar dan pernah dipakai untuk menyelenggarakan Pekan Olahraga Nasional IV pada tahun 1957. Stadion ini dulunya adalah perkebunan milik pemerintah Hindia Belanda yang setelah era kemerdekaan RI, atas prakarsa Andi Mattalatta (mantan panglima Kodam XIV/Hasanuddin) diubah menjadi stadion olahraga.

Namanya berasal dari bahasa Makassar mattoa (melirik, menengok) dan anging (angin) dan diberikan karena tempat di sekitar itu adalah daerah pantai tempat berlabuhnya perahu Pinisi yang para awaknya biasanya menengok angin sebagai tanda bahwa cuaca saat itu dalam keadaan baik dan siap untuk berlayar. Sekarang namanya berganti menjadi Stadion andi Mattalatta untuk menghargai jasa2 beliau..